Dia menatap jalan, jari mengetuk pelan setang kemudi. Lalu ia bernyanyi lirih, melantur pada melodi yang hanya dirinya yang tahu. Aromanya—seperti aenaroses—membawa jejak musim lalu: daun basah, kunci rumah, dan malam yang tak mau pergi. Kata-kata Melayu mengalir di bibirnya; lembut, penuh hormat, berbalut makna.