Setelah makan, Siti mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. “Ini catatan harianku,” katanya. “Aku menulis segala hal yang membuatku merasa terbebani, dan juga hal-hal yang membuatku bahagia. Mungkin kamu juga bisa menulis perasaanmu di sini, supaya kita bisa mengerti satu sama lain lebih baik.”

Mereka tiba di pasar, di mana aroma roti panggang dan sayur segar mengisi udara. Rafi membantu ibunya menata barang, sementara senyum mereka meluas, menandakan bahwa badai kecil di dalam rumah telah mereda, digantikan oleh cahaya kebersamaan.

Ibu Rafi, Siti, menoleh sambil menahan napas. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang tak pernah diungkapkan: malam-malam tanpa tidur, pekerjaan sampingan yang menambah beban, dan keharusan menyeimbangkan antara kebutuhan keluarga dan impian pribadi. Namun ia tetap tersenyum tipis.

Rafi mengangguk. “Dan pada Sabtu, kita bisa nonton film bareng di ruang keluarga. Aku juga mau membantu mencuci piring setelah makan,” jawabnya dengan semangat baru.